Di usia 3 tahun, kami sekeluarga mulai gelisah melihat keadaan Eka yang belum mampu berbicara. Walaupun ada juga yang mengatakan bahwa ada beberapa anak yang memang terlambat dalam kemampuan berbicara. Dan berdasarkan pemeriksaan dokter THT, Eka juga dinyatakan mendengar, artinya akan mampu berbicara. Namun karena khawatir, saya kemuadian mencoba membawa Eka ke seorang psikolog dan saat itu Eka dinyatakan normal normal saja, cuma kemampuannya mesti terus dilatih, dirangsang untuk berbicara. Kami pun berniat untuk memasukkan Eka ke Pre School, Si Komo kalo tidak salah waktu itu.
Beberapa hari kemudian, bersama Eka, saya bertemu dengan Kepala Sekolah TK Si Komo. Saya memperkenalkan Eka kepada Kepala Sekolah dan menyampaikan keinginan untuk memasukkan Eka, belajar di TK.Si Komo. Kepala Sekolah saat itu tidak menolak, tetapi menyarankan agar Eka terlebih dahulu dimasukkan ke suatu tempat terapi/pelatihan, namanya masih asing bagi saya waktu itu, Taman Pelatihan Harapan. Dari Si Komo kami kemudian lanjut ke Taman Pelatihan Harapan yang jaraknya juga tidak begitu jauh. Tempatnya biasa saja, ruko yang disulap menjadi tempat terapi untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Di lantai satu, tempat anak diterapi dibuat ruang-ruang khusus untuk anak belajar dan berlatih sesuai kebutuhan masing-masing.
Di Taman Pelatihan Harapan ini saya bertemu dengan Ibu Syam, dan dari beliau saya baru mendengar istilah Autisme. Beliau juga menjelaskan bahwa Eka bisa saja kemungkinan Autisme atau hanya speech delay. Tapi sejak mendengar hal itu hatiku mulai tidak tenang, dan begitu sampai di rumah hanya bisa menangis sepanjang malam, mengetahui keadaan anakku, Eka.
