Ummu al-Ala meriwayatkan :
Ketika aku jatuh sakit, Rasulullah SAW menjengukku dan menghiburku, “Bergembiralah, wahai Ummu al-Ala, karena dengan sakit itu Allah menghapus kesalahan-kesalahan seperti api yang menghilangkan kerak-kerak pada perak.”
Hadis di atas bukan berarti menyuruh kta untuk membiarkan virus-virus penyakit menyerang tubuh kita dan kita tidak perlu berobat dengan alasan bahwa sakit dapat menghapus kesalahan dan dosa-dosa. Seorang hamba harus mencoba penawar dan menghilangkan penyakitnya dengan tetap bersabar atas penderitaan dan menganggapnya sebagai simpanan kebaikan yang akan tercatat dalam buku-Nya. Inilah pesan yang hendak disampaikan oleh wanita salehah itu (Ummu al-Ala).
Seorang istri harus bersabar ketika kehilangan orang-orang yang dicintainya: suami atau anak-anaknya. Ada sebuah hadis yang berbunyi : “Sesungguhnya Allah tidak tega untuk memberikan pahala yang lebih rendah dari surga terhadap hamba-Nya yang beriman dan kehilangan kekasihnya di bumi kemudian bersabar dan ikhlas menerima.”
Ketika seorang istri kehilangan suaminya (sebab kematian), sesungguhnya Allah telah mengambil hamba-Nya dan Dia lebih berhak atasnya. Jika seseorang berkata, “Suamiku atau anakku!” Allah Sang Pencipta berfirman, “Hambaku! Aku lebih berhak atasnya dari selain-Ku. Suami adalah pinjaman, anak adalah pinjaman, saudara adalah pinjaman, ayah adalah pinjaman, dan istri adalah pinjaman.
Sumber : Menjadi Wanita Paling Bahagia karya Dr. ‘Aidh al-Qarni
